Siloam BalikpapanNewsBalikpapan –

Kedua mata Suyatno (58 tahun) kembali sembab oleh air mata. Raut muka menerawang jauh saat vonis dokter menyebut jantungnya bermasalah. Istilah medisnya, ada penyumbatan pembuluh darah yang membutuhkan penanganan medis dari dokter spesialis jantung.

Diagnosa dokter pertengahan 2015 lalu – memperingatkan sumbangan pembuluh darah koroner di dadanya yang

dikawatirkan bisa berujung kematian.

“Tahun lalu ada ada keluhan dada nyeri dan sesak nafas di dada. Dokter Puskesmas merekomendasikan penanganan medical dokter spesialis jantung,” kata warga Muara Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur ini menuturkan pengalamannya, (Rabu (24/8).

Hancur lebur hati pria ini membayangkan biaya berobat termasuk beban tanggungan anak istrinya. Pegawai kasar perusahaan pertambangan sudah memastikan hasil katerisasi jantung Rumah Sakit Siloam Balikpapan dengan akurat menyimpulkan adanya penyumbatan pembuluh darah koroner.

Pembuluh darah ini fungsinya sangat fital untuk mensuplai sirkulasi darah ke seluruh tubuh manusia.

“Sudah terbayang dimata saya operasi jantung, dokter ahli yang membutuhkan biaya besar. Resiko operasi yang tidak bisa diprediksikan,” paparnya dengan raut muka sendu.

Suyatno memang akhirnya memberanikan diri menjalani operasi pembukaan sumbatan pembuluh darahnya. Berbekal keanggotaan BPJS Kesehatan mampu mengcover seluruh biaya dibutuhkan.

Operasi intervensi jantung tim dokter Rumah Sakit Siloam Balikpapan ini berjalan sukses sehingga membuat dia bisa kembali beraktifitas.

“Luar biasa Rumah Sakit Siloam Balikpapan menangani pasien yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah ini, tidak ada dibedakan dengan pasien lain. Tenaga medisnya professional dan pembayarannya di cover BPJS Kesehatan,” ujarnya lega.

Kasus penyakit jantung lainnya dialami Juanda (4 tahun). Bocah malang ini mengidap penyakit jantung bocor bawaan sejak lahir. Gejalanya seperti gampang lelah, nafas pendek, batuk, dada berdebar kencang, sering buang air kecil, sakit di dada, sesak nafas, mudah pingsan dan sering pusing.

“Gampang sakit, berat badanya naik turun dan susah minum susu,” papar Nurlia, menceritakan penyakit putra semata wayangnya.

Nurlia mengatakan pertumbuhan anaknya tidak normal dibandingkan anak lain seumurannya. Semenjak masih bayi, menurutnya Juanda menunjukan gejala memperihatinkan seperti gampang sakit, mudah lelah, nafas pendek dan lain sebagainya.

“Sehingga berat badanyya hanya 11 kg sejak dia berusia 1 tahun hingga 4 tahun,” ungkapnya.

Idealnya, anak seumuran Juanda adalah berkisar 16 hingga 18 kilogram. Nafsu makan – minum Juanda memang kurang berimbas pada berat badanya yang dibawah rata rata. Kondisi yang makin membikin hancur kedua orang tuanya melihat anak kesayangannya ini tidak bisa bermain lincah seperti kebanyakan anak lainnya.

Warga Balikpapan ini mengetahui penyakit anaknya ini sekitar 1 bulan yang lalu. Saat itu dokter mendapati detak jantung Juanda tidak sama dengan detak jantuk anak normal pada umumnya. Dan Juanda pun harus dirujuk ke dokter spesialis jantung untuk memastikan sakit yang dideritanya.

“Hasil rontgen menunjukan ada kelainan jantung bocor bawaan sejak lahir. Dokter saat itu langsung menyarankan agar Nurlia secepatnya membawa anaknya ini ke ruang bedah,” ungkapnya.

Operasi bedah Juanda setidaknya membutuhkan biaya rumah sakit sebesar Rp 100 juta. Keluarga ini sempat meminta bantuan Yayasan Jantung sehingga biaya operasi turun menjadi Rp 40 juta.

“Masih terlalu berat bagi kami sehingga ada rencana untuk mengurus keanggotaan BPJS Kesehatan,” tuturnya.

Direktur Siloam Hospitals Balikpapan, dr Danie Poluan M Kes menyatakan kasus kasus permasalahan jantung seperti ini bisa dialami oleh siapa saja, tidak membedakan orang kaya, miskin, tua ataupun muda. Penyakit jantung  sudah menjadi ancaman masyarakat modern disebabknya faktor usia, keturunan, gaya hidup hingga bawaan penderita penyakit gula alias diabetes.

“Penyakit ini sering datang tiba tiba dan mayoritas diantaranya tidak menyadari bahwa mereka menyimpan potensi serangan jantung koroner. Sehingga dampak ditimbulkannya terkadang fatal hingga kematian,” ungkapnya.

Pasien seperti Suyatno, kata Danie adalah satu diantara mereka yang beruntung mampu mendeteksi secara dini penyakit jantung dideritanya. Tim medis spesialisasi jantung sebenarnya sudah mampu secara cepat memberikan intervensi penanganannya lewat pemasangan ring, balon, pemasangan alat pacu jantung, pelebaran katup jantung hingga menutup kebocoran katup jantung pasien.

“Kalau terlambat penanganannya bisa diartikan makin komplek masalahnya dan tingginya resiko dihadapi pasien,” paparnya.

Untungnya, Siloam Hospitals Balikpapan sudah mengefektifkan layanan Cardiac Centre atau layanan terpadu yang fokus bagi keluhan penyakit jantung dan kardiovaskular. Siloam Hospitals Balikpapan memfokuskan layanannya pada spesialis jantung intervensi dan spesialis bedah thoraks kardiovaskular dengan peralatan tredmill bagi strees jantung, echocardiography, CT Scan 128 Slices dan unit Cathlab.

“Kami juga memiliki empat spesialis jantung bertugas di Cardiac Centre dari penanganan konsultasi pasien jantung tindakan pencegahan, perawatan hingga kondisi terakhir bedah medis penyakit jantung,” ungkapnya.

Siloam Hospitals Balikpapan memiliki tiga departemen utama Cardiac Centre yakni kateterisasi jantung, PTCA dan cardiac emergency yang dilengkapi kualifikasi layanan ambulance tipe A. Layanan mobil ambulance 24 jam ini dipersiapkan bagi pasien pasien genting yang membutuhkan penanganan medis secepatnya dari tim medis.

“Layanan 30 menit pertama sejak adanya serangan jantung adalah penting. Ini menentukan mati hidupnya pasien,” ujar Danie seraya menambahkan peresmian Cardiac Centre Siloam Hospitals Balikpapan dihadiri Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak dan Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga.

Namun sejatinya napas tilas pencanangan Cardiac Centre Siloam Hospitals Balikpapan sudah dimulai dengan dibukanya klinik jantung dan catheterization lab (cath lab) pada 2011 silam. Klinik jantung ini telah melayani sebanyak 3.400 pasien sedangkan cath lab melayani sebanyak 400 pasien dengan angka keberhasilan 100 persen.

“Hingga sekarang Siloam Hospitals Balikpapan telah menangani sebanyak 150 ribu pasien dengan berbagai keluhan penyakit jantung selama tahun 2015,” kata Danie.

Danie mengatakan adanya Cardiac Centre Siloam Hospitals Balikpapan tentunya memberikan nilai plus dalam penanganan penyakit jantung di Kaltim. Penyakit jantung koroner menjadi salah satu penyebab utama kematian masyarakat dunia dan Indonesia saat ini.

Lokasinya yang ada di Balikpapan mampu menekan biaya dibebankan pada pasien termasuk peningkatkan prosentase kesuksesan dalam penanganan permasalahan jantung di Kaltim.

“Biaya bisa ditekan menjadi seperempatnya bila dibandingkan melakukan pengobatan kasus sama di rumah sakit Singapura. Penanganannya juga bisa cepat sehingga meningkatkan prosentase kesuksesan medisnya,” ujar Danie.

“Dokter dokter kami memang masih muda dalam segi usia tapi kaya akan pengalaman dan jam terbang. Kompetensi keilmuannya diperoleh dari pendidikan tinggi serta jam terbang yang tidak main main,” imbuhnya.

 

Pencarian Populer:

klinik jantung di balikpapan