Karyawan Total Resmi Melebur Pertamina
23 October 2017
Bisnis Properti Cemaskan Gejolak Politik Kaltim
30 October 2017

Agar Penyandang Disabilitas Lebih Berkarya

NewsBalikpapan –

Ruang rapat Hotel Le Grandeur Balikpapan Kalimantan Timur ini semestinya riuh. Para pesertanya saling berbicara sendiri tanpa memperdulikan pidato para pejabat Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Namun kenyataannya, suasana ruangan ball room ini tetap hening lagi khitmad. Meskipun mereka saling canda dan tawa – komunikasi antar sesamanya menggunakan bahasa isyarat yang tidak semua orang bisa paham.

Mereka ini merupakan penyandang disabilitas perwakilan seluruh Kalimantan yang mengikuti jambore TIK menjadi agenda kementerian dunia maya. Setidaknya ada 98 peserta penyandang disabilitas penglihatan, pendengaran, fisik dan maupun intelektual.

“Kami ingin mengenalkan penyandang disabilitas akan kemampuan ilmu informasi dan teknologi internet pada mereka,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Farida Dewi Maharani di Balikpapan, Jumat (27/10).

Keterbatasan fisik penyandang disabilitas, menurut Farida sangat cocok punya keahlian dibidang ilmu informasi dan teknologi jagat maya. Mereka terbiasa memantengi papan layar komputer dalam menggarap berbagai program desain grafis website internet dan lain sebagainya.

Langkah awal ini, kementerian mengenalkan penyandang disabilitas kemampuan program microsoft office word, excel, powerpoint, internet, desain grafis hingga public speaking. Kemampuan ilmu informasi dan teknologi mampu memberdayakan penyandang disabilitas menjadi invidu yang produktif dan tidak tergantung pihak lain.

“Saat mereka menguasai ilmu ini akan menjadi mata pencarian secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain,” ujar Farida.

Farida mengakui, mayoritas penyandang disabilitas di Indonesia menjadi kelompok yang terpinggirkan sehubungan keterbatasan fisik hingga sumber daya manusia (SDM). Lingkungan keluarga turut jadi pemicu permasalahan sosial yang timbul bagi penyandang disabilitas.

“Keluarganya sendiri malu dan tidak memberikan pendidikan semestinya pada penyandang disabilitas,” paparnya.

Era canggih kini, penyandang disabilitas berkesempatan mengikuti jenjang pendidikan sekolah umum seperti lainnya. Undang Undang Tentang Disabilitas mewajibkan instansi pemerintah dan swasta memberikan kesempatan minimal 2 persen total pegawai masing masing instansi.

“Agar profesi mereka jangan hanya menjadi tukang urut dan pijat saja. Masih ada profesi lain lebih menjanjikan,” tegasnya.

Kominfo memang hingga kini hanya memperkerjakan tiga penyandang disabilitas yang bertugas soal training ilmu teknologi dan informasi kementerian. Meskipun punya keterbatasan fisik, mereka adalah lulusan perguruan tinggi terpandang dengan kemampuan diatas rata rata.

“Ada tiga orang penyandang disabilitas di Kominfo saat ini, mereka orang yang hebat,” tuturnya.

Kominfo berniat menerbitkan sertifikasi bagi penyandang disabilitas soal kemampuan ilmu teknologi dan informasi. Sertifikasi dimaksutkan agar instansi pemerintah dan swasta tidak ragu memperkerjakan penyandang disabilitas.

“Jambore ini menjadi langkah awal dimana nantinya kita memperbanyak pelatihan pelatihan yang selanjutnya diberikan sertifikasi,” paparnya.

Pelatih Kominfo, Dimas P Muharam mengatakan, keterbatasan fisik disabilitas bukan lagi menjadi penghalang mereka agar berprestasi. Menurutnya, era milenial saat ini banyak memberikan kemudahan agar penyandang disabilitas mampu bersaing dengan lainnya.

“Semuanya kembali pada diri sendiri, apakah mereka mampu tetap maju atau tidak. Tidak perlu lagi minder berinteraksi dengan mereka yang non disabilitas,” ujar pria tuna netra yang mengantongi ijasah strata 2 dari universitas manca negara ini.

Dimas mencontohkan berbagai aplikasi pengenalan tulisan merubahnya menjadi suara hingga huruf braille. Hingga perangkat komputer yang memang khusus diperuntukan bagi penyandang disabilitas.

“Saya tuna netra sejak sekolah 6 SD dan mulai saat itu berusaha mengikuti pelajaran sekolah umum. Caranya macam macam, mempergunakan perangkat perekam suara hingga meminta soft copy mata pelajaran agar bisa saya rubah menjadi tulisan braille,” tegasnya.

Pengenalan ilmu teknologi dan informasi internet, kata Dimas menjadi jawaban keterbatasan fisik penyandang disabilitas saat ini. Mereka punya kesempatan menjadi invididu yang produktif bagi pihak lain.

“Bukan lagi menjadi beban, tapi seorang individu yang produktif. Penyandang disablitas seperti manusia biasa, ada yang pintar tapi juga ada yang bodoh dan malas,” sebutnya.

Namun demikian, Dimas mengakui mayoritas penyandang disabilitas Indonesia gagap perkembangan ilmu teknologi dan informasi internet. Banyak diantaranya bahkan belum pernah memegang perangkat komputer seumur hidupnya.

“Memang butuh kerja keras untuk memberikan pengajaran pada mereka ini,” tuturnya.

Guru SLB Balikpapan, M Nur Yasin menambahkan, permasalahan penyandang disabilitas terutama adalah rendahnya jenjang pendidikan mereka. Mayoritas sekolah sekolah umum enggan menampung siswa yang memiliki gejala keterbatasan fisik siswanya.

“Contohnya saya ini yang menderita kerabunan mata namun sudah disuruh masuk sekolah luar biasa saja. Padahal saya masih bisa mengikuti mata pelajaran seperti biasa,” paparnya.

Sekolah sekolah umum semestinya memberikan kesempatan penyandang disabilitas agar bisa bersaing dengan siswa lainnya. Para gurunya memberikan kemudahan sebatas menyalin seluruh mata pelajaran dalam soft copy hingga pembuatan soal ujian khusus.

“Para guru ini terkesan tidak mau repot mengajar anak disabilitas, alasannya macam macam dengan mengaku belum mengantongi sertifikasi pengajarannya dan lain lain,” ungkapnya.

Permasalahannya, keberadaan SLB sangat terbatas di masing masing kota saat ini. Yasin mencontohkan Kota Balikpapan yang hanya memiliki tiga SLB bagi seluruh warganya.

“PBB pernah menyampaikan dari total seluruh penduduk sebanyak 10 persen diantaranya adalah penyandang disabilitas,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *